
Cermin yang Sering Kita Lupakan: Muhasabah Kepemimpinan
Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengevaluasi orang-orang yang dipimpinnya. Ia juga harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Sebab, kepemimpinan yang baik tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kesediaan mengakui kekurangan dan terus memperbaiki diri.
Ada satu nasihat dari Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه yang sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna luar biasa. Sebuah nasihat yang semestinya tidak hanya kita baca, tetapi juga kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari, terlebih ketika kita sedang memegang amanah kepemimpinan.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang.”
Nasihat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab atas apa yang dikerjakan. Tidak ada jabatan yang membuat seseorang terbebas dari pertanggungjawaban. Tidak ada kedudukan yang menjadikan seseorang terlalu tinggi untuk dievaluasi. Dan tidak ada alasan yang cukup kuat untuk terus membenarkan diri ketika kenyataan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Baca Juga
Pemimpin yang Bersedia Mendengar: Belajar dari Kebijaksanaan Rasulullah Saw
Dalam kehidupan, kita sering kali begitu mudah menilai orang lain. Kita cepat menemukan kekurangan bawahan, mengkritik cara kerja rekan, mempertanyakan keputusan orang lain, bahkan merasa paling memahami bagaimana sebuah pekerjaan seharusnya dilaksanakan.
Namun, ketika tiba saatnya menilai diri sendiri, sering kali kita justru kehilangan ketajaman. Kesalahan kita terasa kecil, sementara kesalahan orang lain tampak begitu besar. Kekurangan diri dianggap sebagai sesuatu yang wajar, tetapi kekurangan orang lain menjadi bahan pembicaraan panjang.
Di sinilah nasihat Umar bin Khattab menemukan relevansinya. Sebelum sibuk menghitung kesalahan orang lain, ada baiknya kita menyediakan waktu untuk menghitung kekurangan diri sendiri.
Terlebih bagi mereka yang dipercaya memimpin sebuah lembaga pendidikan.
Jabatan Bukan Sekadar Kedudukan, Melainkan Pertanggungjawaban
Menjadi kepala sekolah, kepala madrasah, wakil kepala, atau pemimpin dalam sebuah lembaga pendidikan bukanlah perkara sederhana. Di balik jabatan itu terdapat amanah yang menyangkut banyak orang dan masa depan generasi.
Seorang kepala madrasah, misalnya, tidak hanya bertanggung jawab memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan sesuai jadwal. Ia juga harus memikirkan bagaimana guru berkembang, bagaimana peserta didik mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak, bagaimana budaya kerja tumbuh, bagaimana administrasi tertata, dan bagaimana lembaga terus bergerak menuju mutu yang lebih baik.
Semua itu membutuhkan keputusan, kebijakan, dan tindakan yang tidak selalu mudah.
Ada kalanya pemimpin harus bersikap tegas. Ada saatnya ia perlu memberikan teguran. Terkadang ia harus mengambil keputusan yang tidak menyenangkan semua pihak. Namun, di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, ada satu hal yang jangan sampai dilupakan: pemimpin juga perlu mengevaluasi dirinya sendiri.
Sudahkah ia memberikan keteladanan sebelum menuntut kedisiplinan? Sudahkah ia berlaku adil sebelum meminta orang lain bersikap profesional? Sudahkah ia mendengarkan sebelum memutuskan? Sudahkah ia menghargai kerja keras guru dan tenaga kependidikan sebagaimana ia mengharapkan penghargaan atas pekerjaannya?
Baca Juga
Pemimpin yang Hebat Tidak Membesarkan Suara, tetapi Membesarkan Jiwa
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, tidak semua pemimpin bersedia menjawabnya dengan jujur.
Sebab, terkadang yang paling sulit dalam kepemimpinan bukanlah mengoreksi orang lain, melainkan mengakui bahwa diri sendiri juga memiliki kekurangan.
Kita bisa dengan mudah membuat daftar kesalahan bawahan. Kita mampu menyusun instrumen supervisi, mengevaluasi kinerja guru, memeriksa kelengkapan administrasi, dan menilai pencapaian program. Akan tetapi, apakah kita juga memiliki instrumen yang sama untuk menilai kualitas kepemimpinan kita sendiri?
Jangan-jangan, selama ini kita begitu sibuk memastikan semua orang bekerja dengan baik, tetapi lupa bertanya apakah kita sendiri sudah menjalankan amanah dengan baik.
Evaluasi Jangan Hanya Berhenti pada Guru dan Tenaga Kependidikan
Dalam sebuah lembaga pendidikan, evaluasi merupakan bagian penting dari proses pengembangan. Ada evaluasi pembelajaran, evaluasi program, evaluasi kinerja, evaluasi kelembagaan, hingga evaluasi terhadap penggunaan anggaran.
Semua itu diperlukan agar lembaga tidak berjalan tanpa arah.
Namun, evaluasi yang sehat seharusnya tidak hanya diarahkan kepada orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan. Pemimpin juga harus bersedia menjadi bagian dari objek evaluasi.
Jika guru dituntut datang tepat waktu, apakah kepala madrasah sudah memberikan contoh kedisiplinan? Jika guru diminta menyelesaikan administrasi pembelajaran, apakah pimpinan telah menunaikan tanggung jawab administratifnya? Jika tenaga kependidikan diminta memberikan pelayanan yang baik, apakah pemimpin sudah memperlakukan mereka dengan santun dan manusiawi?
Jangan sampai standar kedisiplinan hanya berlaku bagi bawahan, sementara pemimpin merasa memiliki pengecualian.
Jangan sampai guru diminta bekerja dengan penuh tanggung jawab, tetapi kebijakan pimpinan justru berubah-ubah tanpa komunikasi yang jelas.
Jangan sampai kita berbicara tentang budaya mutu, tetapi tidak mau menerima kritik yang sebenarnya dapat membantu memperbaiki lembaga.
Sebab, budaya mutu tidak akan tumbuh hanya dengan instruksi. Ia membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan kesediaan seluruh warga lembaga untuk terus belajar.
Seorang pemimpin yang tidak pernah mengevaluasi dirinya akan mudah terjebak dalam perasaan bahwa semua persoalan bersumber dari orang lain. Ketika program tidak berjalan, guru dianggap kurang maksimal. Ketika target tidak tercapai, bawahan dipersalahkan. Ketika komunikasi tidak harmonis, orang lain dianggap sulit diajak bekerja sama.
Padahal, boleh jadi ada bagian dari persoalan itu yang justru berawal dari cara pemimpin mengelola lembaga.
Mungkin instruksi yang diberikan kurang jelas. Mungkin pembagian tugas tidak proporsional. Mungkin komunikasi tidak berjalan baik. Atau mungkin pemimpin terlalu sibuk dengan urusan administratif sehingga kurang hadir mendampingi orang-orang yang dipimpinnya.
Kesediaan melihat persoalan dari sudut pandang ini merupakan bagian dari kedewasaan kepemimpinan.
Jangan Hanya Menuntut, tetapi Periksa Keteladanan
Ada satu hal yang sering kali menentukan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan, yaitu keteladanan pemimpinnya.
Guru tidak hanya mendengar apa yang dikatakan kepala madrasah. Mereka juga memperhatikan bagaimana kepala madrasah bersikap. Peserta didik tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan guru, tetapi juga mengamati perilaku orang-orang dewasa di lingkungan pendidikan.
Apa yang dilakukan pemimpin sering kali memiliki pengaruh lebih kuat daripada apa yang diucapkannya.
Ketika seorang kepala madrasah berbicara tentang kedisiplinan, tetapi dirinya sendiri sering mengabaikan waktu, pesan itu kehilangan kekuatannya. Ketika ia mengajak guru bekerja sama, tetapi tidak mau mendengarkan pendapat mereka, ajakan tersebut terasa sebagai formalitas. Ketika ia berbicara tentang keikhlasan, tetapi mudah merendahkan orang yang bekerja dengan kemampuan terbatas, ada sesuatu yang tidak selaras antara perkataan dan tindakan.
Kita tentu tidak sedang menuntut pemimpin menjadi manusia sempurna. Tidak ada manusia yang bebas dari kekurangan. Namun, justru karena tidak sempurna itulah seorang pemimpin harus terus belajar memperbaiki diri.
Keteladanan bukan berarti tidak pernah salah. Keteladanan juga tampak ketika seseorang berani meminta maaf, mengakui kekeliruan, dan memperbaiki keputusan yang ternyata kurang tepat.
Tidak ada kehormatan yang hilang ketika seorang pemimpin berkata, “Saya keliru, mari kita perbaiki bersama.”
Sebaliknya, sikap seperti itu dapat menumbuhkan kepercayaan. Guru akan melihat bahwa pimpinan tidak sedang mempertahankan ego, melainkan sungguh-sungguh memikirkan kebaikan lembaga.
Pemimpin yang demikian tidak perlu selalu meninggikan suaranya untuk menunjukkan kewibawaan. Sikap adil, konsistensi, dan tanggung jawab justru menjadi sumber penghormatan yang lebih mendalam.
Jangan Sampai Lembaga Berkembang, tetapi Pemimpinnya Tidak Bertumbuh
Dalam pengembangan lembaga pendidikan, kita sering berbicara tentang target dan capaian. Kita menyusun rencana kerja, menetapkan indikator keberhasilan, mengejar akreditasi, meningkatkan prestasi peserta didik, mengembangkan kompetensi guru, serta memperbaiki sarana dan prasarana.
Semua itu penting. Lembaga memang harus terus bergerak dan berkembang.
Namun, ada satu pertanyaan yang terkadang terlupakan: apakah pemimpinnya juga berkembang?
Sebab, lembaga yang terus maju membutuhkan pemimpin yang juga terus belajar. Perubahan zaman menuntut kemampuan baru. Perkembangan teknologi mengubah cara belajar dan mengajar. Karakter peserta didik terus mengalami dinamika. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan semakin beragam.
Jika pemimpin berhenti belajar, sementara tantangan terus berkembang, lambat laun akan muncul jarak antara kebutuhan lembaga dan kemampuan pengelolaannya.
Karena itu, evaluasi diri tidak hanya menyangkut apa yang telah kita lakukan, tetapi juga apa yang belum kita pelajari.
Apakah kita masih mau membaca? Apakah kita bersedia mengikuti perkembangan pendidikan? Apakah kita terbuka terhadap gagasan baru dari guru-guru muda? Apakah kita mau belajar dari lembaga lain yang memiliki praktik baik? Apakah kita bersedia mengubah kebiasaan lama yang ternyata tidak lagi efektif?
Pemimpin yang baik bukan orang yang merasa sudah mengetahui segalanya. Ia justru menyadari bahwa semakin besar tanggung jawab yang diemban, semakin besar pula kebutuhan untuk belajar.
Ada kalanya gagasan terbaik datang dari guru yang lebih muda. Ada kalanya solusi muncul dari tenaga kependidikan yang selama ini jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Bahkan, tidak jarang kritik dari orang yang sederhana justru membuka persoalan yang selama ini tidak terlihat oleh pimpinan.
Maka, jangan biarkan jabatan membuat kita kehilangan keinginan untuk belajar.
Sebab, lembaga pendidikan yang sehat bukan hanya lembaga yang mampu menghasilkan prestasi, melainkan juga lembaga yang seluruh warganya, termasuk pemimpinnya, terus bertumbuh.
Muhasabah Sebelum Laporan Pertanggungjawaban
Setiap lembaga memiliki agenda pertanggungjawaban. Ada laporan kegiatan, laporan keuangan, laporan kinerja, dan berbagai dokumen evaluasi yang harus diselesaikan.
Kita terbiasa menyiapkan data untuk menunjukkan apa yang telah dicapai. Kita menyusun angka, tabel, dokumentasi, dan bukti fisik agar setiap program dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, di balik semua laporan administratif itu, ada pertanggungjawaban lain yang jauh lebih mendasar: pertanggungjawaban kita kepada Allah.
Berapa banyak keputusan yang telah kita ambil dengan penuh keadilan? Berapa banyak orang yang telah kita perlakukan dengan baik? Apakah pernah ada hak guru yang kita abaikan? Apakah ada amanah yang tidak kita tunaikan? Apakah kita menggunakan kewenangan untuk kepentingan lembaga atau justru untuk kepentingan pribadi?
Pertanyaan ini tidak harus membuat kita merasa takut secara berlebihan. Justru, ia seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalankan amanah.
Sebab, jabatan pada akhirnya akan berakhir. Ruang kerja yang hari ini kita tempati suatu saat akan ditempati orang lain. Tanda tangan yang sekarang dibutuhkan dalam berbagai dokumen kelak tidak lagi memiliki arti apa-apa ketika masa jabatan selesai.
Yang akan tetap melekat pada diri kita adalah amal dan pertanggungjawaban atas apa yang pernah kita lakukan.
Boleh jadi, laporan kinerja kita dinilai baik oleh lembaga. Program-program berhasil dilaksanakan. Prestasi meningkat. Administrasi dinyatakan lengkap. Namun, bagaimana dengan hubungan kita dengan orang-orang yang pernah bekerja bersama kita? Apakah mereka merasa dihargai? Apakah keputusan kita telah menghadirkan keadilan? Apakah kehadiran kita membawa manfaat?
Di sinilah muhasabah menjadi sangat penting.
Evaluasi administratif membantu kita mengetahui keberhasilan program. Muhasabah membantu kita mengetahui kualitas diri di balik pelaksanaan program tersebut.
Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Memimpin dengan Hati yang Bersedia Dikoreksi
Pada akhirnya, nasihat Umar bin Khattab bukan sekadar ajakan untuk menghitung dosa dan kesalahan secara pribadi. Ia juga mengajarkan kesadaran bahwa manusia harus mempersiapkan pertanggungjawaban sebelum waktu itu benar-benar tiba.
Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, nasihat ini mengingatkan kita agar tidak terlalu sibuk mengoreksi orang lain hingga lupa memperbaiki diri sendiri.
Jika hari ini kita memiliki kewenangan untuk menilai kinerja guru, jangan lupa menilai cara kita memimpin. Jika kita berhak memberikan teguran kepada bawahan, jangan lupa mengingatkan diri sendiri. Jika kita meminta orang lain bekerja dengan penuh tanggung jawab, pastikan kita juga telah menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Tidak perlu menunggu rapat evaluasi untuk menyadari kekurangan. Tidak harus menunggu teguran pengawas untuk memperbaiki kinerja. Tidak perlu menunggu masalah besar muncul untuk mulai membangun komunikasi yang lebih baik.
Terkadang, kita hanya membutuhkan waktu sejenak untuk duduk diam dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan hari ini? Siapa yang mungkin tersakiti oleh perkataan saya? Keputusan apa yang perlu saya perbaiki? Amanah mana yang belum saya tunaikan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menjadi awal perubahan yang besar.
Sebab, seorang pemimpin yang mau mengoreksi dirinya akan lebih mudah memahami kekurangan orang lain. Ia tidak tergesa-gesa menyalahkan, tidak mudah merendahkan, dan tidak merasa selalu berada di pihak yang paling benar.
Ia memahami bahwa setiap orang memiliki keterbatasan. Karena itu, ia lebih memilih membimbing daripada sekadar menghakimi, menguatkan daripada menjatuhkan, dan memperbaiki daripada mencari siapa yang harus dipersalahkan.
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan bukan hanya diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil kita evaluasi, tetapi juga dari seberapa jauh kita mampu memperbaiki diri selama menjalankan amanah.
Jangan sampai kita begitu teliti mencatat kesalahan guru, tetapi abai terhadap kesalahan sendiri. Jangan sampai kita sibuk membangun citra lembaga, tetapi lupa membangun kualitas pribadi. Jangan sampai kita berhasil membawa lembaga meraih banyak prestasi, tetapi gagal menjadi pemimpin yang adil dan memberi keteladanan.
Mari sesekali berhenti dari kesibukan mengatur orang lain. Berikan ruang bagi diri sendiri untuk bercermin. Tidak perlu mencari pembenaran, tidak perlu menyalahkan keadaan, dan tidak perlu merasa malu mengakui kekurangan.
Sebab, pemimpin yang baik bukanlah orang yang tidak memiliki kesalahan. Ia adalah orang yang tidak berhenti berusaha memperbaiki kesalahannya.
Dan mungkin, sebelum kita kembali meminta guru meningkatkan kinerjanya, sebelum kita menyusun program pengembangan lembaga, atau sebelum kita mengevaluasi capaian orang lain, ada baiknya kita terlebih dahulu bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah saya menjadi pemimpin yang pantas dipercaya? Sudahkah kehadiran saya membawa kebaikan bagi orang-orang yang saya pimpin? Dan jika hari ini amanah itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, apakah saya telah menjalankannya dengan sebaik-baiknya?
Sebab, pada akhirnya, setiap jabatan akan ditinggalkan, setiap kewenangan akan berakhir, dan setiap manusia akan berdiri mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing.
Hisablah diri sebelum dihisab. Perbaikilah diri sebelum diminta mempertanggungjawabkan. Dan jadilah pemimpin yang tidak hanya pandai menilai orang lain, tetapi juga berani mengoreksi dirinya sendiri.
Semoga Allah membimbing kita menjadi pemimpin yang amanah, adil, rendah hati, dan senantiasa bersedia memperbaiki diri. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
l
