• 081336163361
  • admin@gurupedia.my.id.
  • Lumajang Jatim
NEWS
Dari Peserta hingga Menjadi Dewan Hakim: Menyusuri Jalan Panjang Bersama Al-Qur’an

Dari Peserta hingga Menjadi Dewan Hakim: Menyusuri Jalan Panjang Bersama Al-Qur’an

Ada perjalanan yang baru terasa maknanya ketika kita menoleh ke belakang.

Hari ini, ketika saya kembali berada di tengah-tengah kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an, khususnya pada cabang Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), ingatan saya sering kembali pada sebuah masa yang telah berlalu lebih dari dua dekade. Masa ketika saya masih berdiri sebagai peserta, membawa harapan sederhana, berusaha menjawab setiap pertanyaan, dan berharap dapat memberikan yang terbaik.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan itu kelak membawa saya ke tempat yang berbeda. Dari seorang peserta, kemudian menjadi pemenang, mewakili Kabupaten Lumajang, mewakili Provinsi Jawa Timur di tingkat nasional, hingga akhirnya dipercaya duduk sebagai dewan hakim MFQ.

Semua itu, jika direnungkan, bukan semata tentang prestasi. Ada tangan-tangan Allah yang mengatur setiap langkah, ada doa orang tua dan guru, ada bimbingan para pembina, dan ada begitu banyak orang yang ikut mengantarkan perjalanan tersebut.

Tahun 2004: Pertama Kali Merasakan Panggung MFQ

Tahun 2004 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan saya bersama MFQ.

Saat itu saya menjadi peserta MFQ tingkat Kabupaten Lumajang. Saya datang sebagai seorang anak muda yang ingin mencoba kemampuan. Tidak ada bayangan panjang tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya memperoleh Juara 1.

Kemenangan itu tentu membahagiakan. Tetapi hari ini, setelah waktu berjalan begitu panjang, saya melihatnya dengan cara yang berbeda.

Juara pertama bukanlah akhir perjalanan. Justru mungkin itulah awal dari sebuah jalan panjang yang mempertemukan saya dengan banyak pengalaman, guru, sahabat, pembina, dan orang-orang baik yang mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk diperlombakan, tetapi untuk dipelajari dan diamalkan.

Tahun 2005: Membawa Nama Kabupaten Lumajang

Setahun kemudian, tahun 2005, Allah kembali memberikan kesempatan yang tidak pernah saya anggap sebagai sesuatu yang biasa.

Saya terpilih mewakili Kafilah MTQ Kabupaten Lumajang pada MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Sumenep.

Bagi saya saat itu, membawa nama Kabupaten Lumajang tentu menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Saya menyadari bahwa di balik seorang peserta terdapat nama daerah, para pembina, keluarga, dan orang-orang yang telah memberikan kepercayaan.

Alhamdulillah, Allah kembali menakdirkan saya meraih Juara 1.

Namun semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa setiap kemenangan selalu memiliki sisi lain yang jauh lebih penting: tanggung jawab untuk terus belajar.

Sebab, ilmu Al-Qur’an tidak pernah selesai hanya karena seseorang mendapatkan sebuah piala.

Tahun 2006: Dari Jawa Timur Menuju Kendari

Perjalanan itu berlanjut.

Tahun 2006, saya mendapatkan amanah untuk terpilih mewakili Kafilah MTQ Provinsi Jawa Timur pada MTQ tingkat Nasional di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Jika mengingatnya hari ini, ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Seorang anak dari daerah mendapatkan kesempatan berdiri membawa nama Jawa Timur di panggung nasional.

Dan sekali lagi, dengan segala kerendahan hati, saya menyebutnya bukan sebagai keberhasilan pribadi semata.

Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya meraih Juara 1.

Prestasi itu menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan hidup saya. Tetapi waktu kemudian mengajarkan satu hal penting: piala akan tersimpan, nama juara akan menjadi catatan, tetapi nilai-nilai Al-Qur’an yang kita pelajari seharusnya tetap hidup dalam diri kita.

Barangkali itulah hakikat kemenangan yang sesungguhnya.

Tahun 2007: Mulai Duduk di Kursi Dewan Hakim

Setelah beberapa tahun berada di posisi peserta, pada tahun 2007 saya mulai dipercaya menjadi dewan hakim MFQ pada MTQ tingkat Kabupaten Lumajang.

Peralihan posisi itu terasa seperti sebuah perubahan besar.

Dulu saya duduk sebagai peserta, menunggu pertanyaan dan berusaha memberikan jawaban terbaik.

Kini saya duduk di sisi yang berbeda.

Saya bukan lagi orang yang dinilai.

Saya menjadi bagian dari orang-orang yang diberi amanah untuk menilai.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa menjadi dewan hakim bukanlah perkara mencari siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Lebih dari itu, ada amanah besar untuk menjaga objektivitas, keadilan, ketelitian, dan integritas.

Setiap jawaban peserta memiliki cerita. Di balik seorang peserta ada guru yang membimbing, orang tua yang mendoakan, pembina yang mendampingi, bahkan mungkin ada perjuangan panjang yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Karena itu, duduk sebagai dewan hakim membuat saya belajar untuk tidak mudah melihat peserta hanya dari angka dan nilai.

Ada manusia di balik setiap nilai.

Ada perjuangan di balik setiap jawaban.

Ada doa di balik setiap penampilan.

Dan ada harapan besar agar anak-anak muda itu terus mencintai Al-Qur’an, apa pun hasil musabaqah yang mereka dapatkan.

Tahun 2019: Kembali ke Tingkat Provinsi

Pengalaman sebagai dewan hakim kemudian membawa saya pada amanah yang lebih luas.

Pada tahun 2019, saya dipercaya menjadi dewan hakim MFQ pada MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Tuban.

Duduk di panggung MTQ tingkat provinsi dari sisi yang berbeda membuat saya kembali teringat pada tahun 2005 dan 2006.

Dulu saya berada di hadapan dewan hakim.

Kini saya berada di antara mereka.

Dulu saya menunggu hasil penilaian.

Kini saya ikut bertanggung jawab terhadap penilaian.

Sebuah perjalanan yang jika dipikirkan secara manusiawi mungkin terasa seperti kebetulan. Tetapi bagi saya, semuanya adalah bagian dari takdir Allah yang perlahan-lahan mempertemukan saya dengan peran yang berbeda.

MTQ XXXII Lumajang 2026: Dua Puluh Tahun yang Mengajarkan Banyak Hal

Dan perjalanan itu terus berlanjut hingga MTQ XXXII Tingkat Kabupaten Lumajang Tahun 2026, yang dilaksanakan pada 18 Juli 2026.

Ketika kembali duduk sebagai dewan hakim MFQ, saya tiba-tiba merasa seperti sedang melihat kembali perjalanan hidup sendiri.

Dua puluh dua tahun telah berlalu sejak pertama kali saya mengikuti MFQ tingkat Kabupaten Lumajang pada 2004.

Dulu saya datang sebagai peserta.

Kini saya datang sebagai dewan hakim.

Dulu saya berharap mendapatkan nilai terbaik.

Kini saya harus memberikan penilaian sebaik-baiknya.

Dulu saya menunggu keputusan.

Kini saya ikut menjadi bagian dari keputusan itu.

Waktu ternyata telah membawa saya berputar pada lingkaran yang indah.

Dari peserta menjadi pemenang. Dari pemenang menjadi pembelajar. Dari pembelajar kemudian dipercaya menjadi hakim.

Dan pada titik ini saya semakin memahami bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an tidak mengenal kata selesai.

Yang berubah hanyalah posisi kita.

Kadang kita menjadi peserta.

Kadang menjadi pembina.

Kadang menjadi pendamping.

Kadang menjadi hakim.

Tetapi semestinya semuanya tetap berada dalam satu tujuan: menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan.

Ketika Piala Tidak Lagi Menjadi Tujuan

Ada masa ketika saya merasa kemenangan adalah sesuatu yang sangat besar.

Juara 1 Kabupaten.

Juara 1 Provinsi.

Juara 1 Nasional.

Semua tentu menjadi kenangan yang membahagiakan.

Tetapi setelah melewati perjalanan panjang, saya mulai menyadari bahwa piala bukanlah tujuan akhir.

Piala bisa berdebu.

Medali bisa tersimpan di lemari.

Nama juara bisa perlahan dilupakan.

Tetapi ilmu yang kita dapatkan dari Al-Qur’an, akhlak yang tumbuh karena Al-Qur’an, dan anak-anak muda yang kemudian mencintai Al-Qur’an—itulah yang mudah-mudahan memiliki umur lebih panjang.

Karena itu, hari ini saya tidak lagi terlalu banyak bertanya, “Berapa kali saya menjadi juara?”

Saya lebih sering bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sudah saya lakukan setelah mendapatkan kesempatan belajar Al-Qur’an?”

Sebab boleh jadi kemenangan masa lalu bukan sekadar hadiah, melainkan titipan amanah agar ilmu yang pernah dipelajari dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dari Kursi Hakim, Saya Belajar Tentang Kerendahan Hati

Menjadi dewan hakim juga mengajarkan saya satu hal penting: jangan pernah berhenti belajar.

Setiap MTQ mempertemukan kita dengan peserta-peserta baru. Anak-anak muda dengan hafalan yang kuat, pengetahuan yang luas, keberanian yang luar biasa, dan semangat yang kadang membuat kita malu kepada diri sendiri.

Melihat mereka, saya justru merasa bahwa perjalanan saya masih sangat panjang.

Saya mungkin pernah menjadi juara.

Tetapi itu tidak berarti saya telah selesai belajar.

Justru semakin lama berada di lingkungan Al-Qur’an, semakin terasa betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikit yang kita miliki.

Maka, menjadi dewan hakim semestinya bukan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada peserta.

Sebaliknya, ia harus semakin rendah hati.

Sebab yang kita nilai adalah kemampuan manusia, sementara Allah-lah Yang Maha Mengetahui isi hati dan kesungguhan setiap hamba-Nya.

Menatap Masa Depan: Dari Juara Menuju Generasi Qur’ani

Perjalanan panjang ini akhirnya membawa saya pada sebuah harapan yang lebih besar.

Saya berharap MFQ dan berbagai cabang MTQ tidak hanya melahirkan juara-juara yang mampu membawa pulang piala.

Lebih dari itu, kita ingin melahirkan generasi yang akrab dengan Al-Qur’an, luas pengetahuannya, baik akhlaknya, santun tutur katanya, dan mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

Sebab seorang juara hanya akan tercatat dalam daftar pemenang.

Tetapi seorang anak muda yang memiliki akhlak Qur’ani dapat menjadi cahaya bagi keluarga, sekolah, pesantren, masyarakat, bahkan bangsa.

Di sinilah saya merasa perjalanan sejak 2004 hingga MTQ XXXII tahun 2026 menemukan maknanya.

Dulu saya belajar menjawab pertanyaan tentang Al-Qur’an.

Kini saya belajar menjalani pertanyaan yang lebih besar:

Sudah sejauh mana Al-Qur’an menjawab kehidupan saya?

Pertanyaan itu mungkin jauh lebih sulit daripada semua pertanyaan MFQ yang pernah saya hadapi.

Dan sampai hari ini, saya masih terus belajar mencari jawabannya.

Sebuah Refleksi dan Doa

Jika boleh memilih satu kata untuk menggambarkan perjalanan ini, mungkin kata itu adalah “ditakdirkan.”

Ditakdirkan menjadi peserta.

Ditakdirkan menjadi juara.

Ditakdirkan mewakili Kabupaten Lumajang.

Ditakdirkan membawa nama Jawa Timur ke tingkat nasional.

Ditakdirkan kemudian menjadi dewan hakim.

Semua terjadi melalui ikhtiar, doa, bimbingan banyak orang, dan tentu atas izin Allah SWT.

Karena itu, tidak ada alasan bagi saya untuk menyombongkan perjalanan tersebut.

Justru semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin saya merasa bahwa masih terlalu sedikit yang dapat saya berikan kepada Al-Qur’an.

Semoga Allah mengampuni segala kekurangan dalam perjalanan ini.

Semoga ilmu yang pernah dipelajari tidak berhenti pada diri sendiri.

Semoga pengalaman yang pernah diberikan oleh para guru dan pembina dapat diteruskan kepada generasi setelah kami.

Dan semoga suatu saat nanti, anak-anak yang hari ini berdiri sebagai peserta MFQ akan tumbuh menjadi generasi yang jauh lebih baik—bukan hanya menjadi juara di atas panggung, tetapi juga menjadi juara dalam menjaga akhlak, kejujuran, ilmu, dan pengabdian dalam kehidupan.

Sebab pada akhirnya, perjalanan bersama Al-Qur’an bukanlah tentang seberapa banyak piala yang pernah kita raih, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang lahir dari Al-Qur’an melalui diri kita.

Dan hari ini, setelah lebih dari dua puluh tahun berjalan bersama MFQ, saya hanya ingin berdoa:

Ya Allah, jangan jadikan Al-Qur’an hanya sebagai sesuatu yang pernah kami baca, hafal, pelajari, atau lombakan. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai cahaya yang benar-benar hidup dalam hati, akhlak, dan seluruh perjalanan hidup kami.

Dari peserta hingga menjadi hakim, semoga semuanya tetap menjadi jalan pengabdian kepada Al-Qur’an.