
Empat Tipe Santri Perspektif Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki
Dalam dunia pesantren, menjadi santri bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang mampu dihafal atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu khidmah—kesediaan untuk mengabdi, membantu, menghormati guru, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani memberikan sebuah gambaran sederhana tetapi sangat dalam tentang karakter santri. Beliau dawuh:
قال السيد محمد بن علوى الماكى، طَالِبُ العِلْمِ عَلَى أَرْبَعَةٍ: طَالِبٍ ذَكِيٍّ مُجْتَهِدٍ وَخَدُوْمٍ، وَطَالِبٍ خَدُوْمٍ وَغَيْرِ ذَكِيٍّ، وَطَالِبٍ ذَكِيٍّ وَغَيْرِ خَدُوْمٍ، وَطَالِبٍ لَيْسَ بِذَكِيٍّ وَلاَ خًدُوْمٍ؛ فَأَحْسَنُهُمْ الأَوَّلُ، والأَخِيْرُ أَسْوَأُهُمْ.»
“Penuntut ilmu itu ada empat macam: penuntut ilmu yang cerdas, bersungguh-sungguh dan mau berkhidmah; penuntut ilmu yang mau berkhidmah meskipun tidak cerdas; penuntut ilmu yang cerdas tetapi tidak mau berkhidmah; dan penuntut ilmu yang tidak cerdas sekaligus tidak mau berkhidmah. Yang terbaik di antara mereka adalah yang pertama, sedangkan yang paling buruk adalah yang terakhir.”
Dawuh ini seakan mengajak kita untuk melihat kembali: sebenarnya santri seperti apa yang sedang kita bentuk?
- Santri yang Cerdas, Tekun, dan Suka Berkhidmah
Tipe pertama adalah santri yang memiliki kecerdasan, bersungguh-sungguh dalam belajar, sekaligus ringan tangan dalam berkhidmah.
Ia tidak hanya rajin membuka kitab, mengikuti pengajian, menghafal pelajaran, atau mengejar prestasi. Di luar kegiatan belajar, ia juga bersedia membantu guru, mengurus kebutuhan pesantren, menjaga kebersihan, membantu teman, dan ikut memikirkan kemajuan lingkungan tempat ia belajar.
Inilah tipe santri ideal.
Ilmunya tumbuh, akhlaknya berkembang, dan keberadaannya memberi manfaat. Ia memahami bahwa ilmu tidak hanya untuk memenuhi kepala, tetapi juga untuk membentuk hati dan melahirkan tindakan.
Pintar tanpa akhlak dapat menjadi kesombongan. Ilmu tanpa khidmah dapat kehilangan keberkahannya.
- Santri yang Tidak Terlalu Pandai, tetapi Mau Berkhidmah
Tidak semua santri memiliki kemampuan akademik yang sama. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang harus mengulang berkali-kali agar bisa mengerti.
Namun, menurut dawuh Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, santri yang mungkin tidak terlalu cerdas tetapi memiliki semangat khidmah tetap berada pada posisi yang baik.
Baca Juga
Sebab, pesantren tidak hanya mendidik kecerdasan akal. Pesantren juga mendidik ketulusan, kesabaran, tawadhu, kedisiplinan, dan kepekaan terhadap orang lain.
Bisa jadi seorang santri tidak menjadi orang yang paling cepat memahami pelajaran. Tetapi ia selalu hadir ketika dibutuhkan. Ia mau membantu tanpa banyak bicara. Ia menghormati guru dan tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Dan justru dari jalan khidmah itulah, Allah dapat membukakan jalan ilmu dan kebaikan yang tidak disangka-sangka.
- Santri yang Cerdas, tetapi Tidak Mau Berkhidmah
Tipe ketiga mungkin terlihat mengagumkan pada awalnya.
Ia pintar. Nilainya bagus. Hafalannya kuat. Cepat memahami kitab. Mampu menjawab pertanyaan guru. Bahkan mungkin sering menjadi juara.
Tetapi ada satu persoalan: ia tidak mau berkhidmah.
Ia merasa pekerjaan-pekerjaan pesantren bukan tanggung jawabnya. Membantu guru dianggap merepotkan. Membersihkan lingkungan dianggap pekerjaan orang lain. Membantu teman dianggap membuang waktu.
Di sinilah kecerdasan perlu direnungkan kembali.
Ilmu yang tinggi seharusnya melahirkan kerendahan hati. Semakin berilmu seseorang, semestinya semakin ia memahami pentingnya menghormati guru, menghargai sesama, dan memberi manfaat.
Karena tujuan ilmu bukan sekadar menjadikan seseorang lebih tahu, tetapi juga menjadikannya lebih baik.
- Santri yang Tidak Pandai dan Tidak Mau Berkhidmah
Inilah tipe yang disebut Abuya sebagai yang paling buruk.
Bukan karena ia tidak memiliki kecerdasan. Sebab keterbatasan kemampuan memahami pelajaran bukanlah dosa.
Yang menjadi persoalan adalah ketika keterbatasan itu disertai dengan ketidakmauan untuk berusaha dan tidak memiliki semangat khidmah.
Tidak rajin belajar, tidak mau membantu, tidak peduli kepada guru, tidak peduli kepada lingkungan, dan tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki diri.
Pesantren seharusnya menjadi tempat seseorang bertumbuh. Karena itu, santri tidak dituntut langsung menjadi sempurna. Yang penting adalah ada kemauan untuk belajar, berubah, dan memberi manfaat.
Santri Sejati: Belajar dan Berkhidmah
Dawuh Abuya kemudian semakin memperjelas makna tersebut:
«الطّالِبُ عِنْدِيْ: مَنْ يَتَعَلَّمُ وَيَخْدُمُ، وَمَنْ خَلُصَ فِيْ خِدْمَتِهِ يَفْتَحِ اللهُ عَلَيْهِ.»
“Santri menurutku adalah orang yang belajar sekaligus berkhidmah. Barang siapa yang tulus dalam khidmahnya, Allah akan membukakan baginya pintu kebaikan.”
Kalimat ini sangat sederhana, tetapi menyimpan pesan pendidikan yang dalam.
Belajar dan berkhidmah bukan dua jalan yang terpisah. Keduanya justru saling melengkapi.
Belajar mengisi akal dengan ilmu. Khidmah mendidik hati agar ilmu tersebut tidak berubah menjadi kesombongan.
Belajar mengajarkan bagaimana memahami sesuatu. Khidmah mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang bermanfaat.
Belajar membuat kita mengetahui banyak hal. Khidmah mengajarkan kita untuk tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.
Karena itu, dalam tradisi pesantren, khidmah bukan sekadar pekerjaan tambahan. Ia adalah bagian dari pendidikan karakter.
Tidak Semua Santri Harus Menjadi yang Paling Pintar
Dawuh Abuya juga memberikan penghiburan bagi santri yang merasa dirinya tidak sepandai teman-temannya.
Jangan merasa rendah hanya karena belum mampu memahami pelajaran dengan cepat.
Barangkali jalan keberhasilanmu bukan melalui kecerdasan yang luar biasa, tetapi melalui ketekunan dan ketulusan dalam berkhidmah.
Sebab, keberkahan ilmu tidak selalu terlihat dari seberapa cepat seseorang memahami kitab. Terkadang ia terlihat dari bagaimana ilmu itu membuat seseorang semakin tawadhu, semakin hormat kepada guru, semakin sayang kepada sesama, dan semakin ringan membantu orang lain.
Di pesantren, setiap santri memiliki jalan pertumbuhannya masing-masing.
Ada yang tumbuh melalui kitab. Ada yang tumbuh melalui hafalan. Ada yang tumbuh melalui pengalaman. Ada yang tumbuh melalui perjuangan. Dan ada yang menemukan banyak pintu kebaikan melalui khidmah.
Khidmah yang Tulus Akan Membuka Pintu Kebaikan
Yang paling penting dari khidmah adalah ketulusan.
Khidmah bukan tentang siapa yang melihat. Bukan pula tentang mendapatkan pujian.
Ketika seorang santri menyapu halaman pesantren, membantu guru, mengangkat barang, melayani tamu, menjaga kebersihan, membantu teman, atau mengerjakan tugas pesantren dengan ikhlas, mungkin tidak ada manusia yang memperhatikannya.
Tetapi Allah tidak pernah luput dari satu pun amal hamba-Nya.
Karena itu, jangan pernah meremehkan pekerjaan kecil yang dilakukan dengan hati yang besar.
Bisa jadi, sesuatu yang menurut kita hanya pekerjaan sederhana justru menjadi sebab datangnya keberkahan ilmu, kemudahan hidup, luasnya hati, dan terbukanya pintu-pintu kebaikan.
Pada akhirnya, pesan Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki bukan sekadar pembagian empat tipe santri. Ia adalah cermin untuk melakukan muhasabah.
Kita boleh bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita sungguh-sungguh belajar?Sudahkah kita menghormati guru? Sudahkah kita mau berkhidmah?
Dan yang paling penting:
Apakah ilmu yang kita pelajari sudah membuat kita menjadi manusia yang lebih bermanfaat?
Sebab santri sejati bukan hanya mereka yang banyak ilmunya, tetapi mereka yang belajar dengan sungguh-sungguh, berkhidmah dengan tulus, berakhlak dengan rendah hati, dan membawa manfaat bagi sesama.
Semoga kita tidak hanya menjadi santri yang pandai berbicara tentang ilmu, tetapi juga menjadi santri yang mau belajar, mau berkhidmah, dan mau mengamalkan ilmu.
Karena mungkin saja, pintu keberkahan ilmu yang selama ini kita cari ternyata berada di balik ketulusan sebuah khidmah.
